Tampilkan postingan dengan label Prakarya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prakarya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Maret 2017

Dompet Rubah


Kelompok :
  1. Alessa Melva Devandra /01
  2. Citako Candra Kharisma /07
  3. Huwaidaa' ' Adzroo' 'Adawiyyah/13
  4. Natasha Isabel Felia Angeline/21
Alat dan Bahan

Minggu, 08 Januari 2017

Berkarya Kerajinan dari Limbah Anorganik

Beberapa Contoh pengolahan Limbah anorganik :








Limbah Kaleng

Limbah kaleng

Limbah kaleng adalah limbah yang tidak bisa diurai secara alami atau proses biologi, limbah kaleng ini termasuk limbah anorganik. Kaleng adalah lembaran baja yang disalut timah. Bagi orang awam, kaleng sering diartikan sebagai tempat penyimpanan atau wadah yang terbuat dari logam dan digunakan untuk mengemas makanan, minuman atau produk lain. Dalam pengertian ini, kaleng juga termasuk wadah yang terbuat dari aluminium dan campuran logam lainnya.

Terkadang lapisan ini dilapisi lagi oleh lapisan bukan metal yaitu untuk mencegah reaksi dengan makanan ataupun minuman di dalamnya. Kelebihan menonjol dari kemasan ini adalah bisa dilakukannya proses sterilisasi, sehingga makanan yang disimpan di dalamnya menjadi steril, tidak mudah rusak, dan awet. Dan pengertian dari baja adalah logam alloy yang komponen utamanya adalah besi (Fe), dengan karbon sebagai material pengalloy utama. Baja dengan peningkatan jumlah karbon dapat memperkeras dan memperkuat besi, tetapi juga lebih rapuh. Definisi klasik, baja adalah besi-karbon alloy dengan kadar karbon sampai 5,1 persen; ironisnya, alloy dengan kadar karbon lebih tinggi dari ini dikenal dengan besi (Fe). Definisi yang lebih baru, baja adalah alloy berdasar besi yang dapat dibentuk secara plastik. Pada kaleng, daya ketahanan timah terhadap korosi juga tidak sempurna, akan tetapi terhadap reaksi dengan makanan di dalamnya lebih lambat dibandingkan dengan baja kareng struktur pada logam tersebut.

Limbah Kain Perca

Limbah Kain Perca 

Kain perca merupakan sisa kain dari proses penjahitan. Sepintas kain sisa ini adalah kain yang tidak memiliki manfaat, tapi sebenarnya sisa kain ini dapat di manfaatkan menjadi sesuatu atau produk yang berguna. Daripada terbuang menjadi sampah lebih baik di gunakan sebagai barang yang lebih berguna. Kain perca ini dapat dimanfaatkan menjadi barang-barang kerajinan tangan seperti tas, sarung bantal, ataupun produk-produk yang lain. 
Istilah "limbah" sebenarnya memiliki kesan yang kurang baik, sebab biasanya berupa sisa buangan yang berpotensi mencemari lingkungan alam sekitar. Namun limbah tekstil yang dimaksudkan disini adalah sisa-sisa potongan kain yang berasal dari industri gramen atau proses produksi konveksi (pakaian).

Istilah umum untuk sisa potongan-potongan kain itu adalah kain perca, meskipun limbah industri garmen tidaklah selalu berupa kain perca (bisa juga berupa tali majun, benang dsb). Untuk mendapatkan limbah garmen kita bisa mendatangi kawasan industri garmen dan membelinya disana atau melalui jasa pemasok khusus limbah garmen. Kita bisa membeli bahan baku kerajinan dari mereka.

Limbah Plastik

Limbah Plastik

Plastik sangat sulit terurai dalam tanah, membutuhkan waktu bertahun-tahun dan ini akan menimbulkan permasalahan tersendiri dalam penanganannya. Pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah bukanlah solusi yang cukup bijak dalam pengelolaan sampah plastik ini. Peranan para pemulung dalam mengurangi timbunan sampah plastik patut mendapat apresiasi meskipun ini tidak bisa menghilangkan seratus persen sampah plastik yang ada. Perlu adanya manajemen sampah plastik mulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah tangga hingga skala besar meliputi kawasan kota yang dikelola oleh pemerintah kota atau daerah setempat. Untuk memudahkan pengelolaan sampah plastik pada skala rumah tangga, maka perlu adanya pemahaman tentang jenis-jenis plastik, kandungan materialnya, hingga dampaknya terhadap lingkungan sehingga diharapkan terbentuk manajemen pengelolaan yang tepat.
Gambar 2. Simbol recycling plastik yang ada pada produk plastik.
Beberapa jenis plastik yaitu : · PET atau PETE, atau polyethylene therephthalate. Ringan, murah, dan mudah membuatnya. Penggunaannya terutama pada botol minuman soft drink, tempat makanan yang tahan microwave dan lain-lain. · HDPE (high density polyethylene) Lebih kuat dan rentan terhadap korosi, sedikit sekali resiko penyebaran kimia bila digunakan sebagai wadah makanan, bisa digunakan untuk wadah shampoo, deterjen, kantong sampah. Mudah didaur ulang. · PVC (polyvinyl chloride) Plastik jenis ini memiliki karakteristik fisik yang stabil dan memiliki ketahanan terhadap bahan kimia, cuaca, sifat elektrik dan aliran. Bahan ini paling sulit didaur ulang dan paling sering kita jumpai penggunaannya pada pipa dan konstruksi bangunan. · LDPE (low density polyethylene) Bisa digunakan untuk wadah makanan dan botol-botol yang lebih lembek. · PP (polypropylene) Plastik jenis ini mempunyai sifat tahan terhadap kimia kecuali klorin, bahan bakar dan xylene, mempunyai sifat insulasi listrik yang baik. Bahan ini juga tahan terhadap air mendidih dan sterilisasi dengan uap panas. Aplikasinya pada komponen otomotif, tempat makanan, karpet, dll. · PS (polystyrene) Jenis ini mempunyai kekakuan dan kestabilan dimensi yang baik. Biasanya digunakan untuk wadah makanan sekali pakai, kemasan, mainan, peralatan medis, dll.

Prinsip pengolahan limbah Anorganik

Prinsip pengolahan limbah Anorganik

Limbah Anorganik adalah sampah yang terdiri dari bahan bahan yang sulit terurai secara biologis sehingga menghancurkannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Masalah sampah saat ini mulai banyak meresahkan warga. Volume sampah bertambah setiap hari sehingga mencemari lingkungan. Ada beberapa cara menangani sampah yang lebih dikenal dengan prinsip 3R yang meliputi kegiatan sebagai berikut:

1. Mengurangi (Reduce)
Mengurangi (Reduce) adalah mengurangi penggunaan barang barang yang menyisahkan limbah. Kegiatan mengurangi sampah, tidak akan mungkin menghilangkan sampah secara keseluruhan tetapi secara teoretis aktivitas ini akan mengurangi sampah dalam jumlah yang nyata. Oleh karena itu, kita harus mengurangi penggunaan bahan atau barang yang kita gunakan dalam aktivitas kita sehari hari karena semakin banyak kita menggunakan bahan atau barang, akan semakin banyak sampah yang dihasilkan. Mengurangi produksi sampah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

LIMBAH ANORGANIK KERAS

LIMBAH ANORGANIK KERAS


Limbah anorganik keras


Pada prinsipnya limbah anorganik keras terdiri dari kandungan bahan yang kuat dan tidak mudah dihancurkan. Selanjutnya tidak semua sampah atau limbah anorganik tidak bisa diolah kembali disebabkan karena keterbatasan alat yang digunakan dan teknologi.

limbah anorganik keras : limbah yang terdiri atas bahan yang kuat dan tidak mudah dihancurkan dengan alat biasa, melainkan harus menggunakan teknologi tertentu seperti pemanasan, pembakaran, dan penghancuran dan sebagainya.
contoh: pelat pelat dari logam, pecahan keramik, botol kaca, kaleng.

LIMBAH ANORGANIK LUNAK

Limbah anorganik lunak

Limbah anorganik lunak : limbah yang terdiri atas kandungan bahan yang lentur dan mudah dibentuk atau diolah secara sederhana. hampir semua limbah anorganik lunak dapat dimanfaatkan kembali sebagai produk kerajinan, karena dapat menggunakan alat yang sederhana
contoh: gelas plastik, botol plastik, styrofoam,karet ban.

Kerajinan dari Limbah Anorganik

Limbah anorganik adalah limbah yang berwujud padat, sangat sulit terurai atau bahkan tidak bisa terurai atau tidak bisa membusuk

Pengolahan limbah anorganik yang ada di lingkungan masyarakat terlebih dahulu dilakukan melalui beberapa cara, yaitu ;
a. Sanitasi (Sanitary landfill)
Sanitary landfill yaitu suatu metode pengolahan sampah terkontrol dengan sistem sanitasi yang baik.
b. Pembakaran (Incineration),
Pada incineration sampah dibakar di dalam alat yang disebut insinerator. Hasil pembakarannya berupa gas dan residu pembakaran.
c. Penghancuran (Pulverisation ).
Pada pulverisation, penghancuran sampah dilakukan di dalam mobil pengumpul sampah yang telah dilengkapi dengan alat pengaduk sampah. Sampah-sampah tersebut langsung dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil yang dapat dimanfatkan untuk menimbun tanah yang letaknya rendah